English  | Indonesia






  
     Tajuk utama
Dari Nol menjadi Pahlawan: Dari pasien TB menjadi Konselor TB
Oleh Wiwik Widyastuti
Tangerang, Banten, 25/8/2009 --
Hari yang panas di Kota tangerang. Perempuan itu duduk di bangku kayu panjang milik pedagang makanan keliling. Dia memakai kaus putih, celana jins dan kacamata berbentuk kotak yang sesuai dengan rambut pendeknya. Sebuah pohon besar tak jauh dari bangku memayunginya, melindungi perempuan itu dari sinar matahari yang terik.

Dini Kusumawardani, nama perempuan itu, berumur 28 tahun dan berasal dari keluarga beranggotakan 6 orang. Dia adalah anak kedua di keluarganya. Mereka tinggal di Legoso Permai, Ciputat, sebuah kecamatan yang cukup padat di Provinsi Banten, Indonesia. Tidak lama setelah lulus dari SMA, Dini bekerja di sebuah pabrik handuk. Tugasnya saat itu membungkus handuk-handuk ke dalam kemasan apik untuk dijual. Setiap hari, dia menghirup udara yang berdebu dan serat-serat handuk yang halus ketika bekerja. Mengalami masalah pernafasan terus menerus selama hampir dua tahun, Dini semakin lama semakin tidak produktif di tempat kerja. Setelah mengalami batuk tak berkesudahan selama beberapa waktu, diapun memutuskan untuk berhenti bekerja.

“Saya merasa malu kalau sedang banyak orang lalu saya batuk terus, tak berhenti-henti,” kata Dini. ”Saya minum obat batuk biasa yang dijual di warung tapi batuknya tidak sembuh-sembuh, Setiap pagi, saya bangun tidur meriang. Badan rasanya lemas. Saya kadang-kadang berpikir hari itu saya akan mati,” tambahnya. Pada sore hari, Dini seringkali demam hingga sepanjang malam.

Setelah menderita batuk selama berbulan-bulan, Dini mencari pengobatan alternatif, berharap pengobatan non-klinis tersebut dapat mengakhiri penderitaannya. Sayang sekali, justru yang terjadi sebaliknya, Batuk yang dideritanya kian memburuk. Tak lama setelah itu Dini memutuskan untuk pergi ke Puskesmas yang ada di lingkungan rumahnya. Dari situ, dia dirujuk ke Dokter Spesialis Paru dan mengetahui bahwa dia mengidap penyakit Tuberkulosis yang sudah parah.

“Saya kaget sekali waktu tahu bahwa saya kena TB. Kakak saya, Dana, dulu pernah kena TB. Saya mestinya tahu dengan gejala-gejalanya tapi mungkin saya pikir saya gak akan pernah kena TB,” kata Dini, mengakui ketidak acuhannya akan tanda-tanda jelas dari penyakit tersebut.

Memerangi penyakit TB

Tuberkulosis merupakan masalah serius di Indonesia. Penyakit ini dideklarasikan sebagai pembunuh nomor satu di antara penyakit menular lainnya yang ada di dunia. Setiap tahun, di Negara yang merupakan tempat tinggal bagi 226 juta orang ini, terdapat seperempat juta kasus TB baru ditemukan. Seratus empat puluh ribu (140.000) orang meninggal akibat TB setiap tahun di Indonesia. Negara Indonesia menduduki peringkat ketiga pada daftar Negara dengan tingkat kematian tertinggi di dunia, setelah India dan Cina.

Melalui proyek MITRA yang didanai oleh Badan Bantuan Pembangunan Internasional AS (USAID), CARE memerangi penyakit tersebut yang lebih banyak mempengaruhi orang-orang yang termiskin dan paling rentan, di empat kota dan kabupaten di Provinsi Banten. Di dalam kerangka strategi intervensi nasional untuk TB, Directly Observed Treatment, Short-course (DOTS) atau pengobatan jangka pendek dengan pengawasan. CARE memfokuskan diri pada dua elemen kunci: Kemoterapi standar jangka pendek 6 hingga 8 bulan dengan pengawasan pengobatan langsung dan Sistem informasi untuk pengawasan dan pencatatan hasil pengobatan.

Di Indonesia, terdapat beragam stigma dan bentuk diskriminasi yang diasosiasikan dengan TB. Banyak yang berpendapat bahwa TB merupakan penyakit keturunan, ada yang berpendapat bahwa penyakit ini merupakan penyakit kutukan dan karenanya, tidak dapat disembuhkan. Stigma-stigma ini memicu diskriminasi dan isolasi para pasien TB beserta keluarganya dan menjadi halangan yang besar dalam penyediaan perawatan dan pencegahan infeksi lebih lanjut di dalam masyarakat. ”Waktu saya tahu saya terinfeksi oleh TB, saya merasa sangat kesepian. Saya merasa dikucilkan oleh masyarakat; teman-teman saya, tetangga-tetangga saya,” Dini bergumam dengan suara lemah.
 
Dini Kusumawadini, 28, terinfeksi TB. Setelah sembut total, dia menjadi Konselor TB, membantu orang lain mendapatkan informasi yang akurat mengenai TB dan mendapat pengobatan yang sesuai.


Paguyuban

Sebagai usaha untuk menghilangkan berbagai stigma social ini, CARE mendukung Dinas Kesehatan untuk memfasilitasi pembentukan kelompok pendukung; atau biasa dikenal dengan nama Paguyuban. Kelompok ini terdiri dari para pasien TB dan keluarga mereka, para tenaga kesehatan, tokoh masyarakat dan agama, dan beberapa relawan dari masyarakat. Sebagai anggota kelompok, peran utama mereka antara lain menyebarkan informasi yang akurat mengenai TB kepada masyarakat di sekitar mereka dan merujuk orang yang dicurigai menderita TB ke Puskesmas untuk diperiksa dan diberi pengobatan lebih lanjut. Sebagai tambahan, mereka juga berperan sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO); yaitu seseorang yang memastikan bahwa pasien meminum obat yang sesuai dan tepat waktu.

“Pengalaman kami menunjukkan bahwa konsultasi antar rekan sebaya sangat efektif, terutama jika melibatkan mantan penderita TB. Setelah mantan pasien tersebut menceritakan pengalaman mereka, kelompok tersebut cenderuk untuk lebih terbukan dan menerima,” kata Dr. Rahmat Setiawan, Manajer Proyek MITRA. ”Untuk mencapai dampak yang lebih luas, kami juga melibatkan para tenaga kesehatan serta para tokoh masyarakat dan agama di daerah tersebut.”

Dini pertama kali diperkenalkan kepada program ini pada bulan Maret tahun lalu ketika dia masih menjalani pengobatan di Puskesmas. Merasa tergerak hatinya, tidak lama setelah berpartisipasi dalam pelatihan mengani TB selama dua-hari, Dini bergabung dengan Paguyuban tersebut. Sebagai anggota kelompok, dia menjalankan perannya sebagai Konselor TB dengan antusias.

“Sebagai seseorang yang terinfeksi TB, kita cenderung berpikir bahwa diri kita sudah tidak berguna lagi bagi orang lain. Namun dengan menjadi Konselor TB, saya merasa saya punya kekuatan untuk menolong orang lain,” kata Dini menjelaskan alasannya sangat menikmati perannya sebagai Konselor. Dia perlahan-lahan mendekati teman-teman dan tetangga-tetangganya, mencoba memberikan informasi tentang TB kepada mereka. Menurut Dini, awalnya terasa sulit namun setelah beberapa lama, setelah mereka tahu bahwa Dini merupakan bagian dari gerakan yang lebih besar dalam memerangi TB dan mencoba untuk membantu, mereka mulai mendengarkan Dini. ”Tak begitu lama, mereka mulai banyak bertanya dan menjadi lebih terbuka.”

Hingga hari ini, Dini telah menolong beberapa tetangganya melakukan tes TB. Hasilnya tiga dari mereka ternyata positif menderita TB dan sekarang mendapatkan pengobatan yang sesuai. Selain mendedikasikan waktunya untuk menjadi Konselor TB, Dini menjalankan bisnis kecil-kecilan; menjual tanaman hias di halaman depan rumahnya; ada bunga Mawar, Melati, Agloanema, Anthurium dan beberapa tanaman lain. Bahagia dengan kehidupannya sekarang, perempuan ini bertekad untuk terus menjadi Konselor TB dan membuat dirinya berguna bagi orang lain. ”Saya ingin mereka tahu bahwa meski mereka sakit, masih ada orang-orang yang peduli.”

Proyek yang berhubungan dengan tajuk utama ini
MITRA - Membangun Integrasi program TB di Republik Indonesia

Sektor yang berhubungan dengan tajuk utama ini
Kesehatan

Privacy statement | Site map