Banda Aceh, 7/12/2009 --
Hari yang panas di Banda Aceh, kota yang pernah diluluhlantakkan oleh tsunami di penghujung tahun 2004. Ibukota provinsi yang terletak di paling ujung utara Pulau Sumatra dan Indonesia ini terlihat agak sepi. Selama lima tahun terakhir, kota ini terus bergeliat untuk hidup kembali. Hari ini, barisan bangunan baru menghiasa setiap sudut kota; kantor, toko, rumah, dan sekolah. Semua dicat berwarna modern. Tanda lahirnya kembali kota yang hampir mati.
Di salah satu bagian kota itu, Eri Arfian, 26, sedang menghidangkan kopi di kafe kecilnya, Milanisti. Letak kafe ini cukup ideal, tepat di seberang hotel bintang-empat pertama di Banda Aceh, Saat istirahat siang, banyak tamu yang datang untuk menikmati makan siang, sementara di sore hari, mereka datang untuk menikmati kopi Aceh yang terkenal. Pemuda itu berjalan keluar dari dapur, membawa nampan berisi dua gelas kopi hitam. Seorang pria yang duduk di depan TV layar datar menyambut kopi yang dihidangkan dan tersenyum sembari menarik rokok dari bungkusnya.
Sebelum tsunami menghantam daerah itu, Eri dan keluarganya tinggal di desa Labui di dekat pantai. Waktu itu, Eri baru saja mulai kursus komputer setelah sebelumnya lulus dari SMA. Ombak ganas yang datang Minggu pagi lima tahun yang lalu menyapu hampir semua yang ia miliki dalam hidupnya. Rumah tempat tinggalnya bersama keluarganya, kenang-kenangan masa kecilnya, dan seorang ibu, rasa kehilangan yang paling berat yang harus ditanggungnya.
Setelah tsunami, Eri tinggal bersama ayahnya di barak. Tak mampu melanjurkan sekolah, Eri mengikuti jejak ayahnya, Marwan, bekerja sebagai buruh bangunan untuk sebuah organisasi kemanusiaan, membangun kembali rumah-rumah bagi masyarakatnya. Pada Oktober 2008, ia mengikuti pelatihan perhotelan yang disediakan gratis oleh Youth Project, dari CARE, dan pada saat yang bersamaan, meneruskan profesinya sebagai pekerja bangunan.
“Saya senang sekali waktu pertama ikut program ini, senang bisa belajar keterampilan dan pengetahuan baru,” kata Eri dengan antusias. “Ternyata saya mengambil keputusan yang tepat.”
Dilatih oleh koki professional, Eri belajar cara mengolah makanan – mulai dari persiapan berbagai macam hidangan lokal dan internasional hingga melayani pelanggan sesuai dengan standar dasar hotel. Setelah mengikuti pelatihan selama empat bulan, ia mengikuti magang di sebuah hotel terkenal untuk mendapatkan pengalaman langsung di usaha perhotelan.
|
|
 Eri Arfian, 26, makes coffee at his cafe Milanisti.
|
Dengan pengetahuan yang ia terima dan modal yang secukupnya, pengusaha muda itu memulai usaha tenda makan Sembilan bulan yang lalu. Tak lama setelah itu, teman-temannya bergabung dengan usaha yang menjanjikan itu dan memberi modal baru. Ditambah dengan asset tambahan dari CARE seperti kulkas, meja dan peralatan makan, Eri dan rekan-rekan bisnisnya menyewa ruko dan memulai usaha kafe dan jasa katering, mengantarkan makanan kepada para siswa yang datang dari luar kota.
Dengan keterampilan barunya, Eri sekarang memiliki harapan baru untuk masa depannya. Dengan kafe dan usaha kateringnya yang berjalan lancer, Eri sekarng berpenghasilan 5 (lima) juta rupiah perbulan dan hidup mandiri tanpa bantuan dari ayahnya.
“Kadang-kadang, ketika sedang tidur di kamar, saya memikirkan tentang Mamak. Rasanya berat sekali, meski sudah lima tahun lebih, tapi saya coba untuk melanjutkan hidup,” kata Eri, sambil menarik nafas dalam.
Sesaat setelah tsunami meluluhlantakkan tanah Aceh, CARE membantu membagikan makanan dan air bersih kepada 350.000 orang yang selamat dari tsunami. Di tahun-tahun berikutnya, CARE bekerja bersama masyarakat Aceh untuk membangun kembali kehidupan masyarakat dengan membangun kembali rumah mereka, system layanan kesehatan, fasilitas air dan sanitasi, mata pencaharian, sekolah, dan layanan masyarakat lainnya.
Tsunami membawa perubahan drastic kepada banyak para korbannya yang selamat, termasuk Eri. Setelah kehilangan anggota keluarga dan asetnya, Eri tidak pernah menyangka bahwa ia akan memiliki sesuatu lagi di dalam hidupnya.
“Lima tahun yang lalu, saya kehilangan segalanya. Saya tidak pernah menyangka akan punya sesuatu lagi. Sekarang, saya menjalani hidup dengan sepenuh hati.”
|
|